Trauma dengan orang tua itu sering kali muncul apalagi pas kita lagi merasa capek dan kesepian, bahkan bisa kebawa sampai dewasa. Kamu mungkin terlihat baik-baik saja, bisa kerja, bisa ketawa, bisa punya hubungan sosial.
Tapi di dalam pikiran, ada rasa yang sepertinya belum terselesaikan tapi kamu sendiri nggak tau itu apa? apakah marah yang lama dipendam, rasa sedih yang nggak pernah diungkapkan, atau luka lama yang sering muncul tiap ada pemicu tertentu seperti pas kamu lagi marah.
jujur ya! Aku nulis artikel ini sambil terbawa rasa seperti sedih yang nggak bisa ku ungkapkan terhadap orang tuaku. Aku juga sebenarnya punya trauma sob.
Memang berat rasanya mengobatinya.
Tapi aku nggak mau punya rasa benci dengan orang yang melahirkan aku. Makanya aku
pernah coba pergi ke psikiater untuk dapat pencerahan, karena aku juga sedang
berusaha untuk sembuh. Dan akan aku share pengetahuanku di postingan ini.
Kalau kamu kebetulan membaca
artikel ini, besar kemungkinan kamu sedang menyadari satu hal penting:
“Aku sudah dewasa, tapi ada
bagian diriku yang masih terluka karena masa lalu bersama orang tua.”
Dan kabar baiknya, kesadaran itu
adalah langkah pertama penyembuhan.
Disclaimer dulu ya:
Artikel ini bersifat edukatif dan
reflektif. Jika trauma yang dialami terasa berat dan mengganggu aktivitas
sehari-hari, pertimbangkan untuk mencari bantuan professional seperti psikiater.
Artikel ini bukan untuk menyalahkan orang tua, juga bukan untuk menghakimi mereka ya. Tujuannya Cuma satu yaitu membantu kamu mengobati sisa trauma secara perlahan.
Mengapa Trauma Bisa Muncul?
Trauma dengan orang tua itu bukan
selalu soal kekerasan fisik. Banyak trauma justru lahir dari hal-hal yang
dianggap “biasa” oleh lingkungan, tapi ternyata meninggalkan luka
emosional yang cukup dalam.
Beberapa contoh trauma yang
sering dialami:
- Terlalu sering dibandingkan dengan anak lain
- Nggak pernah didengarkan atau divalidasi perasaannya
- Tumbuh dengan tuntutan berlebihan
- Dimarahi tanpa penjelasan
- Nafkah batin tidak diberikan
- Dibesarkan dengan ancaman, rasa takut, atau rasa bersalah
Trauma seperti ini sering disebut
emotional neglect atau luka batin yang nggak terlihat, tapi bisa terbawa terus
dipikiran kita sampai dewasa.
Tanda-Tanda Kamu Masih Menyimpan Sisa Trauma
Mungkin kamu masih belum sadar
bahwa reaksi emosinmu hari ini berakar dari masa kecil. Coba perhatikan, apakah
kamu pernah mengalami hal-hal ini sob:
- Mudah merasa bersalah meski tidak salah
- Sulit mengekspresikan emosi ke orang terdekat
- Takut mengecewakan orang lain
- Terlalu menyalahkan diri sendiri
- Sulit percaya atau dekat kepada orang tua
- Merasa nggak cukup, meski sudah berusaha keras
Kalau iya, kamu harus sabar ya,
bukan karena kamu lemah sob. Itu tanda bahwa ada luka lama yang belum sempat kamu
selesaikan.
Kenapa Trauma dengan Orang Tua Sulit Sembuh?
Karena orang tua adalah figur
pertama dalam hidup kita sob. Dari merekalah kita belajar:
- Apa itu cinta
- Apa itu rasa aman
- Apa itu tanggung jawab
Tetapi ketika luka datang dari mereka,
otak dan emosi kita tanpa sadar sering bingung sendiri:
“Aku terluka, tapi aku juga sayang,
aku nggak mau durhaka.”
Perasaan seperti inilah yang
membuat trauma terasa begitu rumit dan secara nggak sadar telah terpendam.
Cara Mengobati Sisa Trauma dengan Orang Tua Secara Perlahan
Penyembuhan bukan proses instan,
tapi kabar baiknya: bisa dimulai hari ini.
1. Akui Lukanya Tanpa Merasa Berdosa
Langkah pertama adalah mengakui
bahwa kamu memang terluka karena trauma.
Aku pun demikian, kadang menolak untuk
mengakui hal ini sampai terucap kalimat seperti:
- “Ah, mungkin orang tuaku lagi capek.”
- “Aku harusnya bersyukur jadi anaknya.”
- “Aku nggak mau durhaka.”
Memang nggak ada yang salah
dengan kalimat-kalimat diatas, bersyukur itu memang baik. Tapi bersyukur aja
nggak bisa menghapus luka yang udah tertanam dalam hati.
Kamu mungkin pernah merasa:
“Aku paham niat mereka mungkin
baik, tapi kenapa aku tetap merasa sedih.”
Itu Adalah tanda kalau rasa
traumamu masih membekas.
2. Pisahkan Masa Lalu dan
Dirimu Saat Ini
Trauma itu memang sering membuat
kita hidup di dalam keragu-raguan, seolah-olah kita masih anak kecil yang nggak punya pilihan. Tapi apakah harus nurut terus tanpa dipertimbangkan apakah ini
baik buat kamu apa nggak?
Coba di latih kesadaran ini:
Dulu kamu merasa nggak berdaya
tanpa orang tua, tapi sekarang kamu harus merasa punya kendali atas hidupmu
sendiri, jangan terlalu mau diatur kalau nggak baik untuk kamu.
Kamu bukan lagi anak kecil yang
harus menelan semuanya sob. Kamu udah dewasa, dan kamu boleh kok memilih
bagaimana merespons sikap mereka biar nggak jadi luka yang membekas sampai hari
ini.
3. Berhentilah Mengharapkan
Orang Tua Berubah Total
Ini memang bagian paling berat,
tapi juga solusi penyembuhannya.
Coba kamu renungkan. Kenapa trauma
itu sering muncul tiba-tiba? Karena ternyata banyak luka tetap terbuka karena
kamu masih berharap mereka mengerti, masih menunggu permintaan maaf dari
mereka, dan kamu juga mungkin masih ingin diperlakukan seperti yang kamu harapkan.
Tapi gini ya sob! Realitanya, nggak
semua orang tua mampu menyadari atau mengakui kesalahannya.
Jika kamu ingin sembuh, bukan
berarti mereka harus berubah dulu.
Penyembuhan adalah ketika
kesehatan emosimu nggak lagi bergantung pada respons mereka.
4. Terimalah Sikap Orang Tuamu
Kalau memang perasaanmu sering
diabaikan orang tua, sekarang giliran kamu belajar mengakui perasaanmu sendiri.
Contohnya:
- “Wajar aku sedih.”
- “Masuk akal kalau aku marah.”
- “Gpp kalau memang harus nangis.”
Latihan ini mungkin terasa
canggung, tapi cara ini untuk membangun inner security. Kamu nggak harus memendam
rasa kecewa terus-menerus.
5. Bangun Batasan Emosional
Mengobati trauma itu bukan
berarti kamu harus memutus hubungan dengan orang tuamu. Tapi justru batasan itu
diperlukan juga.
Batasan yang bagaimana dulu? Batasan
itu bisa berupa:
- Nggak terlalu mengungkit pembahasan yang memicu emosi
- Membatasi frekuensi interaksi
- Nggak sampai merespons suatu hal yang dapat memprovokasi emosi
- Menghentikan kebiasaan menjelaskan diri berlebihan
Ingat! Ya sob. Batasan itu bukan
bentuk durhaka, tapi bentuk perlindungan diri.
6. Tulis dan Keluarkan Emosi
yang Terpendam
Banyak emosi terjebak di dalam
tubuh karena nggak pernah dikeluarkan.
Coba kamu terapkan ini:
Menulis surat untuk orang tua
tapi nggak perlu dikirim (Suratnya bisa langsung dibakar, sebagai media
pelepasan emosi.)
Jika memang harus, keluarlah dari
rumah untuk menghindari perdebatan
Menangislah tanpa merasa bersalah
Bicara jujur ke orang yang bisa
jaga rahasia
Karena menyembuhkan trauma sering
kali dimulai dari didengarkan, bahkan jika pendengarnya adalah dirimu sendiri. Lebih
bagus lagi carilah psikiater buat curhat dan konsultasi.
7. Maafkan Orang Tua Walau Kamu
Belum Bisa
Memaafkan memang sulit sob, dan
bukanlah sesuatu proses yang bisa dipaksakan.
Tapi dengan Memaafkan dapat
membantu proses penyembuhan, tanpa harus membenarkan perlakuan. Dan supaya kamu
nggak merasa disalahkan terus.
Maaf yang sehat itu memiliki
perasaan seperti prasangka baik:
“Aku nggak mau lagi membiarkan
masa lalu mengendalikan hidupku. Orang tuaku juga manusia, nggak ada orang tua
yang sempurna”
Dan prasangka itu boleh datang
nanti, atau bahkan tidak sama sekali, kalau memang belum siap. Yang harus kamu
coba sekarang Adalah “Belajar Memaafkan”.
8. Pertimbangkan Bantuan
Profesional
Kalau masalah trauma yang sudah mengganggu
hubungan sosialmu, memberikan kecemasan berlebihan, membuatmu sulit menjalani
hidup. Mencari bantuan dari seorang professional seperti psikiater sangatlah
dianjurkan. Itu tanda kamu bertanggung jawab pada dirimu sendiri, kamu berusaha
ingin sembuh.
Hal yang Perlu Kamu Ingat Selama Proses Penyembuhan
- Lakukan penyembuhan bersama seorang professional (Psikiater)
- Kamu boleh Istirahat tanpa melakukan apa-apa, nggak perlu mikir panjang
- Kamu nggak boleh bersikap egois kalau kamu ingin menjadi lebih tenang
- Terimalah bahwa luka emosional itu menyedihkan, tapi bisa disembuhkan
Dan yang paling penting:
Kamu nggak merusak hubungan
dengan orang tua. Kamu hanya merasa terluka dan itu wajar!
Kamu Berhak Sembuh
Mengobati sisa trauma dengan
orang tua adalah perjalanan yang berat, dan sangat personal. Nggak ada garis
finish yang sama untuk semua orang.
Tapi setiap keputusan yang kamu
ambil dapat mempengaruhi emosi yang nggak terkendali, dengan menyadari,
memahami, dan memaafkan, itu adalah bentuk keberanian untuk bisa sembuh dari
luka yang disebabkan karena trauma.
Kamu memang nggak bisa mengubah
masa lalu.
Tapi kamu bisa memilih nggak
mewariskan luka itu ke masa depanmu.

0 Comments
Posting Komentar