Kalau kamu suka main media sosial
kayak aku, kamu pasti kadang ngerasa gampang banget merasa kurang. Scroll
dikit, lihat orang liburan, beli barang baru, hidupnya kelihatan “naik level”.
Tanpa sadar, kita jadi ngebandingin hidup sendiri dan muncul pikiran, “kok
hidup gue gini-gini aja ya?”
Padahal, hidup biasa aja itu
sebenarnya bukan masalah. Yang bikin pikiran capek justru perasaan yang selalu
kurang, nggak bersyukur, selalu pengen lebih, dan nggak pernah bisa puas.
Nah sob, di artikel ini aku bakal
ngebahas cara membangun gaya hidup biasa aja tapi tetap bikin kamu ngerasa
cukup, tenang, dan nggak iri atau terus ngebandingin hidup sama orang lain.
Ini bukan soal jadi super irit
atau anti menikmati hidup, tapi soal ngatur mindset dan kebiasaan supaya hidup
terasa lebih ringan. Jadi, baca artikel ini sampai habis ya!
Kenapa Banyak Orang Merasa Kurang Padahal Hidupnya Baik-Baik Aja?
Sebelum bahas solusinya, kita
perlu jujur dulu sama diri sendiri. Banyak orang merasa kurang bukan karena
hidupnya susah, tapi karena:
- terlalu sering membandingkan hidup dengan orang lain
- standar bahagianya diambil dari media sosial
- terbiasa ngejar validasi eksternal
- fokus ke apa yang belum dimiliki, bukan yang sudah ada
Akhirnya, hidup yang sebenarnya
cukup malah terasa hambar.
Coba direnungkan: apa yang udah
kamu miliki sekarang? Gaji ada, makan aman, tidur nyaman, tapi kenapa hati
tetap aja gelisah?
Di sinilah pentingnya membangun
gaya hidup biasa aja yang sehat secara mental.
Apa Itu Gaya Hidup Biasa Aja?
Gaya hidup biasa aja bukan
berarti hidup pasrah atau tanpa ambisi.
Lebih ke arah:
- hidup sesuai kemampuan
- nggak maksa ikut standar orang lain
- tahu kapan cukup
- bisa menikmati hal sederhana tanpa rasa minder
Orang dengan gaya hidup ini
biasanya nggak sibuk pamer, tapi hidupnya lebih stabil, nggak banyak drama, dan
apa adanya.
Berhenti Menyamakan “Bahagia” dengan “Punya Banyak”
Salah satu kesalahan terbesar
adalah mengira bahagia = punya lebih banyak.
- Lebih banyak uang
- Lebih banyak barang
- Lebih banyak pencapaian
Padahal, kalau mental kamu nggak
siap, punya banyak pun tetap bisa ngerasa kurang.
Coba ubah pertanyaannya:
“Apa yang sebenarnya aku butuhkan
biar hidupku tenang?”
bukan:
“Apa lagi yang belum aku punya?”
Ketika kebutuhan dan keinginan
mulai kamu bedain, rasa cukup bakal muncul pelan-pelan.
Kurangi Nonton Konten yang Bikin Minder
Ini penting banget, sob.
Konten yang kamu konsumsi setiap
hari sangat memengaruhi cara kamu melihat hidup sendiri.
Kalau tiap hari yang kamu lihat
isinya:
- flexing
- pamer pencapaian
- gaya hidup mewah
- standar sukses yang tinggi
ya wajar kalau kamu ngerasa
hidupmu “kurang” terus.
Bukan berarti harus uninstall
semua media sosial, tapi kamu bisa:
- unfollow akun yang bikin minder
- perbanyak konten edukatif dan realistis
- ingat bahwa media sosial itu highlight, bukan realita
Tentukan Standar Hidup Versi Kamu Sendiri
Kalau hidup terasa kurang, sering
kali karena kamu pakai standar orang lain. Aku juga pernah di posisi itu.
- Umur segini harusnya sudah ini.
- Teman-teman sudah sampai sini.
- Orang lain bisa, kenapa aku belum?
Padahal, kondisi setiap orang
beda-beda. Yang penting kita sadar posisi kita sekarang dan tetap berusaha
tanpa nyiksa diri sendiri.
Coba duduk sebentar dan tanya ke
diri sendiri:
- hidup seperti apa sih yang bikin aku tenang?
- apa definisi “cukup” versi aku?
Ketika standar hidup datang dari
dalam, bukan dari luar, hidup terasa jauh lebih damai.
Fokus ke Kehidupan Sehari-hari, Bukan Pencapaian Besar Terus
Nggak semua kebahagiaan datang
dari pencapaian besar.
Kadang, rasa cukup justru muncul
dari hal-hal kecil yang sering diremehkan:
- disiplin bangun pagi
- makan enak walau sederhana
- ngobrol santai sama orang terdekat
- tidur tanpa beban pikiran
Gaya hidup kayak gini memang
biasa aja, tapi justru ngajarin kita buat menghargai hari-hari normal, bukan
cuma momen spesial.
Atur Keuangan Biar Hidup Nggak Terasa Kekurangan
Perasaan kurang sering muncul
karena keuangan berantakan.
Ini bukan soal gaji besar atau
kecil, tapi soal:
- tahu ke mana uang pergi
- nggak hidup dari utang ke utang
- punya tabungan walau sedikit
Dengan keuangan yang lebih
terkontrol:
pikiran lebih tenang
nggak gampang iri
hidup terasa lebih aman
Ini salah satu fondasi penting
dari gaya hidup biasa aja yang sehat.
Latih Rasa Syukur Tanpa Jadi Toxic Positivity
Bersyukur bukan berarti menolak
kenyataan atau pura-pura bahagia.
Bersyukur itu mengakui apa yang
sudah kamu punya, tanpa menutup mata dari hal yang masih ingin diperbaiki.
Contoh sederhana:
“Aku belum sampai tujuan, tapi
aku sudah sejauh ini.”
Kalimat kayak gini jauh lebih
sehat daripada maksa diri selalu terlihat bahagia.
Terima Kalau Hidup Nggak Selalu Naik Level
Media sosial sering bikin kita
mikir hidup harus terus naik level.
Padahal kenyataannya, hidup itu
naik-turun.
Ada fase di mana kamu:
- stagnan
- biasa aja
- bahkan mundur sedikit
Dan itu normal.
Gaya hidup biasa aja ngajarin
kita untuk:
nggak panik saat hidup lagi datar
nggak merasa gagal hanya karena
belum kelihatan “wah”
Bangun Rutinitas yang Bikin Hidup Stabil
Perasaan kurang sering muncul
dari hidup yang terlalu chaos.
Padahal, rutinitas sederhana bisa
bantu banget:
- jam tidur teratur
- makan terjaga
- waktu istirahat cukup
- ada waktu buat diri sendiri
Rutinitas bukan bikin hidup
membosankan, tapi bikin hidup lebih stabil secara mental.
Nggak Apa-apa Hidup Biasa Aja
Ini poin penting, sob.
Nggak semua orang harus jadi luar
biasa.
Nggak semua hidup harus kelihatan
sukses di mata orang lain.
Hidup biasa aja tapi:
- tenang
- merasa cukup
- nggak banyak drama
- mental sehat
itu sudah lebih dari cukup.
Kesimpulan
Cara membangun gaya hidup biasa
aja yang bikin nggak merasa kurang lagi bukan soal menurunkan mimpi, tapi soal
menata ekspektasi.
Dengan berhenti membandingkan
diri, menentukan standar hidup sendiri, mengelola keuangan dengan sadar, dan
menikmati hal sederhana, kamu bisa hidup lebih damai tanpa terus merasa
tertinggal.
Ingat sob, hidup bukan lomba.
Yang penting bukan siapa paling
cepat, tapi siapa yang paling bisa menikmati perjalanan.

0 Comments
Posting Komentar