Banyak orang mikir hubungan rusak
itu karena masalah besar seperti selingkuh, uang, atau pertengkaran hebat dari
hal lain. Padahal kenyataannya, banyak hubungan justru retak pelan-pelan karena
kebiasaan komunikasi kecil yang sering dianggap sepele.
Awalnya mungkin biasa aja bagi yang
nggak tau. Nggak akan terasa salah karena sudah hal biasa. Bahkan kadang
dianggap wajar. Tapi kalau dibiarkan terus, kebiasaan komunikasi ini bisa bikin
jarak emosional makin jauh, rasa nyaman berkurang, dan hubungan terasa hambar
tanpa tahu sebab pastinya.
Kalau kamu lagi ngerasa hubungan
mulai dingin, sering salah paham, atau capek sendiri secara emosional, bisa
jadi bukan karena kurang cinta — tapi karena cara berkomunikasi yang tanpa
sadar apa yang kamu lakuin itu salah.
Sekarang! Yuk kita bahas satu
per satu.
Kenapa Komunikasi Jadi Faktor Penting dalam Hubungan?
Komunikasi itu fondasi utama
hubungan sob. Bukan cuma soal ngobrol, tapi soal cara kamu menyampaikan
perasaan, mendengarkan, dan merespon pasanganmu.
Namun hubungan bisa tetap kuat
meski beda pendapat, asal komunikasinya sehat. Dan sebaliknya, hubungan bisa
rusak walau jarang berantem kalau komunikasi meninggalkan luka kecil yang ternyata
dipendam.
Masalahnya, banyak kebiasaan
komunikasi buruk itu nggak kelihatan berbahaya di awal.
Menghindari Obrolan Penting karena Takut Ribet
Banyak orang memilih diam dengan
alasan:
“Nanti aja deh”
“Takut malah berantem”
“Capek jelasin”
Kelihatannya si damai, tapi
sebenarnya ini bom waktu. Karena masalah yang nggak dibicarakan nggak akan
hilang. Dia cuma numpuk di kepala dan hati. Lama-lama, kamu jadi gampang sensitive,
cepat kesel, merasa nggak dimengerti.
Ingat ya! Hubungan bukan rusak
karena ngobrol, tapi karena terlalu banyak yang dipendam.
Berharap Pasangan Peka Tanpa Dijelasin
Ini kebiasaan yang sering banget
terjadi sob.
“Kok dia nggak ngerti sih?”
“Harusnya dia tahu perasaanku.”
Padahal faktanya, nggak semua
orang bisa membaca pikiran kan. Pasanganmu bukan cenayang.
Jangan menuntut atau Berharap
pasanganmu peka tanpa komunikasi yang jelas, malah cuma bikin kamu kecewa, dia
ikut bingung, hubungan penuh asumsi inilah-itulah.
Komunikasi sehat itu jelas ya,
bukan kode-kodean.
Cara Ngomong Kasar tapi Dibungkus Jujur
Contoh kalimat klasik yang umum
diucapkan:
“Aku jujur aja ya…”
“Terserah sih, tapi menurut
aku kamu salah.”
Kejujuran tanpa empati tetap bisa
melukai loh. Jangan salah!
Masalahnya bukan di apa yang kamu
sampaikan, tapi bagaimana caranya. Nada, pilihan kata, dan waktu bicara punya
dampak besar juga.
Jujur itu penting, tapi nggak
harus nyakitin ya.
Terlalu Sering Menyela dan Nggak Benar-Benar Mendengar
Banyak orang “mendengar” sambil nyiapin
jawaban, membela diri, nyari celah buat nyerang balik.
Akibatnya, pasangan malah ngerasa:
- nggak didengar
- nggak dipahami
- capek cerita
Hubungan butuh didengar sob,
bukan cuma dibalas.
Kadang pasangan cuma ingin
ditemani aja kok, bukan malah dikoreksi.
Membandingkan Pasangan dengan Orang Lain
Kamu mungkin pernah dengar Kalimat
seperti ini:
“Pasangan orang lain aja
bisa…”
“Kok kamu nggak kayak dia?”
Ini kelihatannya sepele, tapi
dampaknya dalam banget.
Membandingkan itu bikin pasangan merasa
nggak cukup dihargai, malah bikin minder, defensive, lebih parahnya kalau
sampai bikin dia menutup diri.
Pegang prinsip ini! Hubungan
bukan kompetisi. Fokus ke pertumbuhan bersama, bukan standar orang lain.
Selalu Mengungkit Kesalahan Lama
Masalah lama yang sudah dibahas
tapi terus diungkit ulang itu racun komunikasi. Setiap pertengkarang kecil bisa
jadi melebar, penuh emosi, jadi nggak fokus ke Solusi.
Apapun masalahnya diomongin
baik-baik. Kalau sudah disepakati dan dimaafkan, yaudah. Jangan diungkit lagi.
Kalau belum selesai, bahas ulang dengan kepala dingin — bukan jadi senjata yang
malah nyakitin.
Diam Berkepanjangan (Silent Treatment)
Diam sesaat buat nenangin diri
itu wajar. Tapi diam berkepanjangan sebagai hukuman itu berbahaya.
Silent treatment bikin pasangan:
- merasa ditolak
- cemas
- overthinking
Komunikasi bukan cuma soal
kata-kata ya sob, tapi juga soal kehadiran emosional yang positif.
Menganggap Masalah Pasangan Sebagai Beban
Hati-hati dengan Respon yang seperti
ini:
“Yaudah sih”
“Kenapa sih kamu lebay?”
“Itu doang dipikirin?”
Ini bikin pasangan merasa
sendirian dalam hubungan.
Kamu nggak harus selalu setuju
kok, tapi yang penting mau menghargai perasaan pasangan itu wajib.
Jarang Apresiasi, Tapi Gampang Mengkritik
Hubungan butuh keseimbangan.
Kalau yang sering keluar cuma:
- kritik
- komplain
- koreksi
tanpa:
- apresiasi
- ucapan terima kasih
- pengakuan usaha
Hubungan akan terasa berat dan
nggak menyenangkan, mudah retak. Apresiasi walaupun kecil bisa jadi bensin
emosional yang besar.
Nggak Mau Mengakui Kesalahan
Ego juga sering jadi penghalang
komunikasi sehat. Seperti selalu merasa paling benar, paling tersakiti, Padahal
hubungan butuh dua orang yang mau:
- belajar
- mengakui kesalahan
- memperbaiki diri
Saranku! Sering-sering ngucapin “Meminta
Maaf”.
Karena minta maaf itu bukan tanda
kalah, tapi tanda kamu dewasa.
Cara Memperbaiki Pola Komunikasi dalam Hubungan
Didunia ini nggak ada hubungan
yang sempurna. Tapi komunikasi bisa dilatih dan dibiasakan.
Mulai aja dari ngomong jujur
tanpa menyakiti, mendengarkan tanpa menyela, sampaikan perasaan, bukan tuduhan.
Baca Juga:
Cara Berkomunikasi dengan Pasangan yang Jarang Terbuka
Pilih aja waktu yang tepat!
Yang penting dibiasakan.
Perubahan kecil dalam komunikasi
bisa berdampak besar ke kualitas hubungan.
Kesimpulan
Kebiasaan komunikasi yang
diam-diam bikin hubungan retak sering kali terlihat sepele, tapi efeknya nyata.
Diam, asumsi, nada kasar, kurang empati, dan ego bisa mengikis hubungan tanpa
disadari.
Hubungan yang sehat bukan soal
nggak pernah berantem sob, tapi soal mampu berkomunikasi dengan jujur, aman,
dan saling menghargai.
Ingat sob, cinta itu dirawat,
bukan ditebak-tebakan.
Kalau komunikasinya sehat,
hubungan pun bisa tumbuh lebih kuat. Oke !!

0 Comments
Posting Komentar