Mengatur keuangan bulanan sering terdengar gampang, tapi ternyata masih banyak yang tumbang di tengah jalan, bukan karena nggak bisa ngatur, tapi karena nggak bisa konsisten mempraktikkannya. Awal bulan memang waktu semangat-semangatnya bikin anggaran, namun beda cerita kalau akhir bulan malah bingung: “Lho, kok uangnya habis lagi si?” wkwkwk

 

Masalah seperti ini bukan karena kamu boros atau nggak disiplin ya sob. Sering kali memang anggaran yang sengaja dibuat terlalu ideal, nggak realistis, dan nggak sesuai kehidupan kamu. Akhirnya cuma jadi catatan indah di awal bulan saja tanpa pernah benar-benar dipakai.

 

Di artikel ini, kita bakal bahas cara membuat anggaran bulanan yang realistis dan tahan lama, bukan cuma catatan rapi di kertas, tapi benar-benar bisa dijalani tanpa bikin stres.

 


Kenapa Banyak Anggaran Bulanan Gagal?

Sebelum bahas caranya, kita perlu jujur dulu, kenapa catatan anggaran sering nggak dipraktikkan?

 

Beberapa alasan paling umum biasanya sih:

  • Terlalu ketat dan kaku
  • Tidak memasukkan pengeluaran kecil
  • Mengabaikan gaya hidup sendiri
  • Mengandalkan niat tanpa sistem

 

Catatan anggaran yang baik itu bukan yang paling hemat, tapi yang penting bisa dijalani terus-menerus.

 

Apa Itu Anggaran Bulanan yang Realistis?

Anggaran bulanan yang realistis adalah yang sesuai dengan pemasukan dan pengeluaran bulanan kamu supaya perhitungan kebutuhan + kebiasaan bisa diperhitungkan, namun bisa dipraktikkan berbulan-bulan tanpa rasa tertekan.

 

Ingat ya sob! Tujuan anggaran itu bukan untuk memaksakan diri, tapi justru supaya keuangan kamu bisa lebih tersusun rapi, bukan sebaliknya.

 

Langkah 1: Catat Pemasukan Bersih, Bukan Harapan

Langkah pertama yang sering disepelekan adalah perhitungan pemasukan bersih, bukan pemasukan versi optimis.

 

Yang perlu kamu pakai itu:

  • Gaji bersih setelah potongan
  • Penghasilan tambahan yang rutin (kalau ada)

 

Yang jangan dimasukkan:

  • Bonus belum pasti
  • THR (kecuali bulan THR)
  • Penghasilan nggak pasti

 

Anggaran yang tahan lama selalu dimulai dari angka paling aman, bukan paling besar.

 

Langkah 2: Bedakan Kebutuhan Wajib dan Fleksibel

Bagi pengeluaran bulanan jadi dua kategori besar:

 

Kebutuhan Wajib

Pengeluaran yang harus dibayar, mau di kondisi apa pun. Contohnya seperti yang biasa aku pilih saat mencatat anggaran bulanan:

 

  • Makanan pokok
  • Sewa kost
  • Listrik, air, internet
  • Transportasi
  • Pulsa

 

Ini yang dijadikan fondasi untuk anggaranmu.

 

Kebutuhan Fleksibel

Mencatat pengeluaran yang bisa diatur saat pemasukan lagi naik-turun.

Misalnya: nongkrong, jajan online, jalan ke luar kota, belanja.

 

Banyak orang gagal karena nggak sadar kebutuhan yang satu ini kadang malah lebih besar dari kebutuhan pokok.

 

Langkah 3: Gunakan Aturan Anggaran yang Fleksibel

Daripada kamu maksa cuma pakai satu metode saja, pilih yang bisa kamu sesuaikan dulu.

 

Beberapa contoh:

  • Metode 50-30-20 (versi yang aku terapkan)
  • 50% kebutuhan wajib
  • 30% gaya hidup
  • 20% tabungan & keuangan masa depan

 

Kalau gaji masih terbatas, boleh pakai perbandingan:

60-25-15 atau 70-20-10

 

Anggaran yang realistis itu boleh diubah kok, yang penting kamu bisa mempraktikkannya secara konsisten.

 

Langkah 4: Masukkan Pengeluaran Kecil yang Sering Tidak Terasa

Ini bagian yang sering bikin anggaran jebol ya.

 

Contoh pengeluaran kecil aku:

  • Ngopi
  • Ongkir
  • Snack
  • Parkir
  • Top up aplikasi

 

Kelihatannya memang sepele, tapi kalau dijumlahkan ya lihat aja di bawah:

Rp15.000 × 20 hari = Rp300.000 😬

 

Tips:

Buat kategori, misalnya: “Pengeluaran kecil harian”.

Jangan diremehkan ya, justru ini yang menyelamatkan anggaranmu.

 

Langkah 5: Sisakan Ruang untuk Senang-Senang Juga

Anggaran yang melarang semua kesenangan hampir pasti gagal.

Karena manusia juga butuh reward. Terlalu membatasi diri bikin nggak konsisten, bisa-bisa balas dendam di akhir bulan jajan terus sampai puas. Ini nggak baik ya sob!

 

Solusinya:

Tetapkan budget hiburan. Nggak perlu besar, yang penting ada dan nikmati saja.

 

Membuat anggaran bulanan jangan dibikin ribet. Pokoknya realistis saja, yang penting kamu mampu menjalaninya.

 

Langkah 6: Prioritaskan Dana Darurat & Tabungan

Cerita sedikit ya. Aku dulu pernah langsung targetin, “Aku mau nabung 30% per bulan!”. Padahal kebutuhan belum stabil, gaji pas-pasan, biaya hidup tinggi di kota, mikir bayar kost lagi. Dan hasilnya malah nggak konsisten, akhirnya batal semua rencanaku.

 

Saran saja sih, lebih baik mulai dari yang kamu bisa dulu (5–10%), lalu naikkan secara perlahan. Yang penting stabil biar kamu bisa konsisten.

 

Untuk dana darurat yang ideal:

3–6 bulan pengeluaran.

Tapi nggak harus langsung juga sih, pelan-pelan juga nggak apa-apa kok.

 

Langkah 7: Pakai Sistem, Bukan Sekadar Niat

Niat doang gampang luntur. Yang bikin anggaran bertahan lama itu adalah sistem.

 

Contoh sistem sederhana yang aku pakai:

  • Pisahkan rekening kebutuhan & tabungan
  • Gunakan e-wallet berbeda untuk jajan
  • Catat pengeluaran harian (manual atau aplikasi)


Sistem yang baik = kamu tetap aman walau lagi capek atau malas.

 

Langkah 8: Evaluasi Anggaran Setiap Akhir Bulan

Buku anggaran bukan kitab suci ya sob, tapi alat yang bisa diperbaiki kapan pun.

 

Setiap akhir bulan, analisa lagi:

  • Bagian mana yang kebanyakan?
  • Mana yang kurang realistis?
  • Apa yang bisa diperbaiki bulan depan?

 

Karena anggaran yang tahan lama adalah hasil evaluasi rutin tiap bulan, bukan cuma dibuat di awal lalu ditinggal.

 

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

  1. Meniru anggaran orang lain mentah-mentah
  2. Tidak mencatat pengeluaran kecil
  3. Tidak menyesuaikan kondisi diri sendiri
  4. Berhenti hanya karena satu bulan gagal

 

Ingat ya sob! Lebih baik anggaran berantakan tapi tetap jalan, daripada rapi tapi ditinggalkan begitu saja.

 

Pegang Prinsip Ini: Anggaran Itu Alat, Bukan Beban

Cara membuat anggaran bulanan yang realistis dan tahan lama itu bukan soal seberapa ketat kamu mengatur uangmu, tapi seberapa jujur kamu mengenali kebiasaan sendiri.

 

Kalau anggaran yang kamu buat malah bikin stres, bikin kamu merasa gagal, atau bikin kamu nggak betah menjalaninya,

artinya yang perlu diubah adalah sistemnya, bukan orangnya.

Pelan, konsisten, dan semampunya. Dari situlah keuangan yang sehat benar-benar bisa bertahan lama.