Kita sebagai makhluk sosial, Nggak akan luput dari hubungan yang bebas dari perdebatan. Mau itu pasangan, sahabat, keluarga, bahkan rekan kerja, selama ada dua kepala dengan pemikiran yang berbeda, perbedaan pendapat pasti bisa muncul.
Masalahnya bukan soal ada atau tidaknya suatu perdebatan itu, tapi bagaimana cara kamu menyikapinya. Banyak hubungan yang rusak bukan karena masalahnya besar, tapi karena cara bertengkarnya salah. Nada meninggi, emosi meledak, kata-kata terucap tanpa dipikir, lalu menyesal belakangan.
Padahal, perdebatan sebenarnya
bisa diselesaikan tanpa saling menyakiti ya sob. Bahkan kalau ditangani dengan
benar, asal kamu tau aja, konflik itu justru bisa membuat hubungan semakin dekat.
Di artikel ini, kita bakal
ngobrol Santai aja dulu soal cara menyelesaikan perdebatan tanpa merusak
hubungan, tanpa teori yang ribet-ribet, tanpa menggurui. Yang penting kamu
paham maksudnya, ok!
Kenapa Perdebatan Sering Berakhir Menyakitkan?
Sebelum membahas solusinya,
penting buat kamu ngerti dulu kenapa perdebatan itu sering berubah jadi
pertengkaran lebih besar.
Biasanya dikarenakan emosi lebih
dulu meluap daripada logika, ingin menang bukan ingin memahami, mengungkit-ungkit
masalah yang udah lama, merasa tidak didengarkan, komunikasi yang salah arah,
dll.
Saat emosimu lagi naik, tujuan
pembicaraan bisa jadi bergeser. Yang awalnya ingin mencari solusi, berubah jadi
ingin membuktikan siapa yang benar. Dan di titik inilah hubungan mulai sedikit terluka.
Perdebatan Bukan Musuh Hubungan
Banyak orang menganggap
bertengkar sebagai tanda hubungan tidak sehat. Padahal kenyataannya tidak
selalu begitu. Hubungan tanpa konflik sering kali bukan karena harmonis, tapi
karena:
- salah satu memilih diam
- takut menyampaikan perasaan
- memendam masalah
Justru hubungan yang sehat adalah
hubungan yang bisa saling meneripa perbedaan pendapat, lalu menyelesaikannya
dengan dewasa. Justru yang berbahaya bukan perbedaannya, tapi cara
menyampaikannya.
Cara Menyelesaikan Perdebatan Tanpa Merusak Hubungan
Berikut beberapa cara yang bisa
kamu terapkan saat konflik muncul.
1. Tenangkan Diri Dulu Sebelum
Melanjutkan Pembicaraan
Kalau emosi masih panas,
pembicaraan apa pun hampir pasti berakhir buruk.
Nggak apa-apa kalau kamu mau ngomong:
“Aku butuh waktu sebentar biar
bisa mikir lebih tenang.”
Ini bukan kabur dari masalah ya,
tapi malah memberi ruang agar pembicaraan tidak dipenuhi kata-kata yang
nantinya disesali. Diskusi yang baik tidak bisa lahir dari emosi yang meledak.
2. Fokus ke Masalah, Bukan ke
Pribadi
Salah satu kesalahan paling
sering adalah menyerang pribadi.
Contoh:
“Kamu memang selalu egois.”
“Dari dulu kamu nggak pernah
berubah.”
Kalimat seperti ini hanya akan
membuat lawan bicara defensive sob!
Lebih baik kamu fokus pada
situasi aja, seperti berkata jujur:
“Aku merasa kecewa waktu
kejadian itu.”
Saat pembicaraan fokus pada
perasaan dan kejadian, bukan karakter, pembicaraan justru jadi lebih nyaman.
3. Dengarkan untuk Memahami,
Bukan Membalas
Sering kali kita mendengar bukan
untuk memahami, tapi untuk menyiapkan jawaban.
Akibatnya, pasangan atau lawan
bicara merasa tidak benar-benar didengarkan. Cobalah dengarkan tanpa menyela.
Biarkan ia menyelesaikan kalimatnya dulu. Kadang, hanya dengan merasa didengar
saja, emosi sudah jauh menurun kok.
4. Gunakan Kalimat “Aku”, Bukan
“Kamu”
Perbedaan kecil ini dampaknya
besar loh.
Bandingkan aja:
“Kamu selalu bikin aku kesal.”
Dengan “Aku merasa kesal saat itu terjadi.”
Kalimat “aku” menyampaikan
perasaan tanpa menyalahkan. Sedangkan “kamu” sering terdengar seperti
tuduhan yang sering respon sebagai menyudutkan.
Dengan bahasa yang lebih lembut,
konflik jadi lebih mudah diredam. Yang pengting kamu pintar mengolah kata.
5. Jangan Mengungkit Masalah
Lama
Saat emosi naik, godaan untuk
membuka “arsip lama” itu besar. Ngungkit terus padahal nggak ada
hubungannya dengan konfliknya. Huft!
Padahal mengungkit masa lalu
hanya akan memperpanjang konflik, membuat luka lama terbuka lagi. Jika masalah
lama belum selesai, bahas di waktu terpisah. Jangan mencampurnya didalam satu
perdebatan.
6. Ingat Tujuan Utamanya:
Menjaga Hubungan!
Ini penting sob! Saat kamu sedang
berdebat, coba tanyakan ke diri sendiri:
“Aku mau menang, atau aku mau
hubungan ini tetap baik?”
Kalau tujuanmu menjaga hubungan,
nada bicara dan pilihan kata akan otomatis berubah. Tidak semua hal harus
dimenangkan dong. Kadang, mengalah sedikit justru menyelamatkan banyak hal yang
menyebabkan pemicu retaknya sebuah hubungan.
7. Cari Solusinya, Bukan
Pembenaran
Perdebatan yang sehat selalu
berakhir dengan Solusi yang bisa diterima bersama, bukan dengan saling
menyalahkan. Alih-alih membuktikan siapa yang salah, lebih baik fokus pada:
- apa yang bisa diperbaiki
- apa yang bisa diubah ke depannya
- bagaimana agar kejadian tidak terulang
Solusi Adalah kuncinya yang
membuat hubungan bertahan dan naik level.
8. Akhiri dengan Kejelasan,
Bukan Gantung
Setelah emosi mereda, penting
untuk memastikan tidak ada yang menggantung ya.
Bisa juga, kalau mau pakai
kalimat sederhana ini:
“Berarti kita sepakat ke
depannya seperti ini, ya.”
Dipahami ya sob! Kejelasan itu mencegah
kesalahpahaman muncul kembali di kemudian hari.
Apa yang harus kamu lakukan, jika Perdebatan Terjadi Terlalu
Sering?
Kalau konflik muncul berulang
dengan pola yang sama, mungkin masalahnya bukan pada topiknya, tapi pada
komunikasi.
Di kondisi ini, penting untuk ngobrol
dari hati ke hati, evaluasi cara berkomunikasi, saling jujur tentang kebutuhan
emosional, dan kalau belum tau caranya kamu bisa baca juga: Cara Berkomunikasi dengan Pasangan yang Jarang Terbuka Dan Kebiasaan Komunikasi yang Diam-Diam Bikin Hubungan Retak
Menjalin hubungan itu bukan soal kita
tidak pernah bertengkar, tapi tentang bagaimana belajar ambil hikmahnya dari
setiap konflik yang datang.
Akhir kata!
Perdebatan dalam hubungan itu
wajar ya sob. Yang membuatnya berbahaya itu adalah saat emosi menguasai cara
berbicara kita. Dengan komunikasi yang lebih tenang, empati, dan niat menjaga
hubungan, konflik bisa diselesaikan tanpa saling melukai.

0 Comments
Posting Komentar